Kamis 01 November 2012. Dhammapada Bab I Yamaka Vagga - Syair Kembar Posted by . hinstinct
Saññatassaca dhammajīvino, appamattassa yaso'bhivaḍḍhati'ti. Orang yang penuh semangat, selalu sadar, murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dengan Dhamma dan selalu waspada, maka kebahagiaan akan bertambah. (Dhammapada syair 24) DOWNLOAD AUDIO. Pengendalian diri (sa?vara) merupakan satu aspek penting dalam
Sdri seDhamma sekalian, demikianlah tadi uraian Dhamma tentang penderitaan dan kebahagiaan yang diambil dari Kitab Suci Avguttaranikaya Dukanipata ayat 101, semoga de-ngan mengertinya kita terhadap ajaran tersebut, akan tampak semakin jelaslah tujuan akhir ki-ta tentang apa dan bagaimana yang dimaksud dengan kebahagiaan kekal yang sesungguhnya
SebatangGinseng Alkisah di sebuah desa ada seorang bapak sedang pergi ke pasar. Dia melihat seorang pedagang sedang menjual sesuatu. Lalu dia bertanya kepadanya. "Ini apa?" "Ginseng," jawab si pedagang. Dijawab lagi oleh si Bapak: "Ini ginseng beneran?" Pedagang menjawab: "Tentu saja, ini adalah ginseng pegunungan." Si Bapak bertanya kembali: "Berapa harganya?"
Cobalahuntuk merenungkan tentang hal ini sedikit. Mulailah untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sampai pada hari ini, sudah tidak terhitung lamanya kita berada di alam sa?sara ini untuk mencari kebahagiaan, tetapi kenyataannya lebih banyak penderitaan yang kita dapatkan. Oleh karena itu Buddha menyampaikan dalam syair Dhammapada
Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Dhammapada Syair Kebahagiaan Sukha Vagga01/197 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa membenci, di antara orang-orang yang membenci. Di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa membenci. 02/198 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa penyakit, di antara orang-orang yang berpenyakit. Di antara orang-orang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. 03/199 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, di antara orang-orang yang serakah. Di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan. Baca kisah perdamaian para kerabat Sang Buddha yang tengah berseteru . 04/200 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kita akan hidup bagaikan dewa brahma yang tinggal di alam cahaya. Baca kisah Mara menghasut para penduduk. 05/201 Kemenangan menimbulkan permusuhan, yang kalah hidup di dalam kesedihan. Kehidupan damai akan diperoleh dengan meninggalkan kemenangan dan kekalahan. Baca kisah kekalahan raja Pasenadi. 06/202 Tiada api yang menyamai nafsu, tiada kejahatan yang menyamai kebencian, tiada derita yang menyamai Lima Kelompok Kehidupan, tiada kebahagiaan yang menyamai Nibbana. Baca kisah sepasang pengantin baru. 07/203 Kelaparan adalah hal yang paling menyakitkan, Kelompok Kehidupan adalah sumber penyakit terparah, orang bijaksana yang mengetahui hal itu sebagaimana adanya, akan mencapai nibbana, kebahagiaan tertinggi. Baca kisah seorang upasaka. 09/205 Dengan merasakan penyepian dan kedamaian nibbana, seseorang yang meminum kenikmatan intisari Dhamma, akan bebas dari ketakutan dan kejahatan. Baca kisah biksu Tissa. 10/206 Adalah sangat baik bila bertemu dengan orang suci, hidup bersama mereka akan selalu menyenangkan, tidak bertemu dengan orang bodoh, juga adalah hal yang menyenangkan. 11/207 Ia yang berjalan bersama dengan orang-orang bodoh, akan berduka dalam waktu yang lama, hidup bersama orang-orang bodoh akan menyakitkan, bagaikan hidup bersama musuh, hidup bersama orang bijaksana akan membahagiakan, bagaikan hidup bersama sanak saudara. 12/208 Oleh karena itu, seseorang harus mengikuti orang-orang suci yang tegas, pandai, terpelajar, tekun, dan patuh, ikutilah orang yang suci dan bijaksana seperti itu, bagaikan bulan mengikuti peredaran bintang-bintang. Baca kisah Sakka, raja para dewa alam Trayastrimsa.
XV. KEBAHAGIAAN 1. 197 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa benci. Cerita terjadinya syair ini… 2. 198 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang berpenyakit; di antara orang-orang yang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. Cerita terjadinya syair ini… 3. 199 Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan. Cerita terjadinya syair ini… 4. 200 Sungguh bahagia hidup kita ini apabila sudah tidak terikat lagi oleh rasa ingin memiliki. Kita akan hidup dengan bahagia bagaikan dewa-dewa di alam yang cemerlang. Cerita terjadinya syair ini… 5. 201 Kemenangan menimbulkan kebencian, dan yang kalah hidup dalam penderitaan. Setelah dapat melepaskan diri dari kemenangan dan kekalahan, orang yang penuh damai akan hidup bahagia. Cerita terjadinya syair ini… 6. 202 Tiada api yang menyamai nafsu; tiada kejahatan yang menyamai kebencian; tiada penderitaan yang menyamai kelompok kehidupan khandha; dan tiada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada Kedamaian Abadi’ nibbana. Cerita terjadinya syair ini… 7. 203 Kelaparan merupakan penyakit yang paling berat. Segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling besar. Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya, orang bijaksana memahami bahwa nibbana merupakan kebahagiaan tertinggi. Cerita terjadinya syair ini… 8. 204 Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Nibbana adalah kebahagiaan yang tertinggi. Cerita terjadinya syair ini… 9. 205 Setelah mencicipi rasa penyepian dan ketentraman, maka ia akan bebas dari duka-cita dan tidak ternoda, serta mereguk kebahagiaan dalam Dhamma. Cerita terjadinya syair ini… 10. 206 Bertemu dengan para ariya adalah baik, tinggal bersama mereka merupakan suatu kebahagiaan, orang akan selalu berbahagia bila tak menjumpai orang bodoh. Cerita terjadinya syair ini… 11. 207 Seseorang yang sering bergaul dengan orang bodoh pasti akan meratap lama sekali. Karena bergaul dengan orang bodoh adalah penderitaan seperti tinggal bersama musuh. Tetapi, siapa yang tinggal bersama orang bijaksana akan berbahagia, sama seperti sanak keluarga yang kumpul bersama. Cerita terjadinya syair ini… 12. 208 Karena itu, ikutilah orang yang pandai, bijaksana, terpelajar, tekun, patuh dan mulia; hendaklah engkau selalu dekat dengan orang yang bajik dan pandai seperti itu, bagaikan bulan mengikuti peredaran bintang. Cerita terjadinya syair ini…
Hidup ini sangat singkat, usia kita semakin bertambah dan kita pun semakin tua kekuatan menjadi lemah dan kita semakin dekat dengan kematian. Cobalah untuk merenungkan tentang hal ini sedikit. Mulailah untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sampai pada hari ini, sudah tidak terhitung lamanya kita berada di alam sa?sara ini untuk mencari kebahagiaan, tetapi kenyataannya lebih banyak penderitaan yang kita dapatkan. Sekarang ini adalah kesempatan yang baik, di mana kita jadi manusia dan bertemu dengan Dhamma ajaran Sang Buddha. Kesempatan ini adalah hal yang sulit untuk diperoleh tapi walaupun sulit kita sudah mendapatkannya, oleh sebab itu berjuanglah sungguh-sungguh selama kesempatan masih ada. Setidaknya kita berusaha untuk tidak jatuh ke empat alam menyedihkan. Bergegaslah untuk berbuat kebajikan, karena bagaimanapun hidup di dunia ini tidak kekal. Hidup ini tidak hanya untuk mencari harta, kedudukan, perolehan, dan ketenaran. Meski memiliki kekayaan sebanyak apa pun, pada akhirnya tidak ada satu pun yang bisa dibawa pergi. Hanya kamma baik dan kamma buruklah yang akan setia menjadi pengikut menuju kehidupan berikutnya. Kalau kita memiliki tabungan kamma baik yang banyak, maka akan dapat mengantarkan kita ke alam yang bahagia dan jika tidak, maka kita akan jatuh ke alam menderita. Masihkah kita akan menunda waktu untuk berbuat kebajikan? Kita tidak tahu masih berapa lama sisa kehidupan yang kita miliki di dunia ini, dan kita juga tidak tahu sudah berapa banyak saldo kebajikan yang kita miliki. Oleh karena itu jangan menunda-nunda waktu, lakukanlah perbuatan baik selama kita bisa. Berbuat baik bisa dengan berdana, menjalankan moralitas, dan mengembangkan batin. Ada sebuah perumpamaan tentang gagak yang malang. Kisah ini di ambil dari isi Sona-Jataka No. 529. Suatu ketika seekor burung gagak bodoh melihat seekor bangkai gajah yang besar yang mengapung dan terbawa arus di sungai Gangga. Diliputi oleh keserakahan, dia berpikir, “itu adalah gudang makanan yang luar biasa, aku akan tinggal di sana siang dan malam dan menikmati kebahagiaan hidup.” Maka, hanya dia yang terbang ke sana dan berdiam di bangkai tersebut. Siang dan malam dia hanya menikmati kebahagiaan hidupnya dengan makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Dia bagaikan mabuk kesenangan, sehingga walaupun di sepanjang pinggir sungai terdapat banyak desa-desa makmur dengan vihara-viharanya yang indah dan megah dilewatinya, dia tidak menghiraukannya sama sekali, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalannya waktu, bangkai tersebut semakin habis dan dia pun semakin tua serta sulit terbang. Akhirnya, ketika bangkai tersebut sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana, bangkai tersebut tidak dapat lagi menopangnya. Dia berusaha terbang. Dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak olehnya. Di sana, di tengah lautan luas dia terjatuh dan langsung dimangsa oleh para penghuni lautan ganas. Makna dari kisah gagak yang malang ini adalah sebagian manusia yang bodoh dan malas bagaikan si burung gagak bodoh. Mereka terlahir sebagai manusia dengan keadaan yang baik dan berkecukupan bagaikan si gagak yang mendapatkan seekor bangkai gajah yang besar. Mereka siang dan malam selalu berusaha untuk memuaskan nafsu indranya tanpa memedulikan bahwa usianya semakin tua dan semakin dekat dengan kematian. Hal ini bagaikan si gagak yang siang dan malam hanya makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Mereka tidak menghiraukan keberadaan Buddha Sasana dan juga sama sekali tidak terpikir oleh mereka untuk melakukan kebajikan. Hal ini bagaikan si gagak yang tidak menghiraukan desa-desa makmur dengan vihara-vihara yang indah dan megah, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalan-nya waktu, berkah kamma baiknya mereka semakin berkurang, usianya semakin tua, dan kemampuannya dalam berusaha juga semakin berkurang. Hal ini bagaikan si gagak yang mulai kehabisan bangkai, usianya semakin tua, dan sulit terbang. Berada di akhir kehidupan, jauh dari kebajikan, dan kamma baik juga tidak kuat lagi menyokong hidupnya. Hal ini bagaikan si gagak yang sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana dan bangkai tempatnya berdiam juga tidak dapat lagi menopangnya. Pada umumnya, ketika mereka telah tua, di saat menjelang kematian, mereka baru sadar dan menyesal, mereka berusaha bertahan hidup dan melakukan kebajikan, tetapi semuanya telah terlambat. Hal ini bagaikan si gagak yang berusaha terbang dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak. Mereka meninggal dalam kegelisahan dan kebingungan, buah kamma buruk menyerbunya, dan mereka terjatuh ke alam menderita yang sangat-sangat menderita. Hal ini bagaikan si gagak terjatuh di tengah lautan luas dan langsung dimangsa oleh penghuni lautan yang ganas. Demikianlah kebiasaan sebagian besar manusia, kita sering lupa bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara. Ketika masih muda dan kuat menyia-nyiakan kesempatan untuk berlatih dalam kebaikan, ketika tua dan lemah baru ingat betapa pentingnya berlatih, betapa pentingnya kebajikan tapi sayang mereka sudah terlalu tua, mau datang ke vihara sudah tidak bisa berjalan, mau berbuat baik sudah terlalu lemah. Akhirnya hanya bisa menjalani sisa hidup dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Oleh karena itu Buddha menyampaikan dalam syair Dhammapada “bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan, barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan”.
Kebahagiaan Merupakan Tujuan Semua Makhluk Idha modati pecca modati katapuñño ubhayattha modati So modati so pamodati disvÄ kammavisuddhimattano “Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira, pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita karena melihat perbuatannya sendiri yang bersihâ€Dhammapada Yamaka-Vagga, syair 16 DOWNLOAD AUDIO Semua makhluk mendambakan, menginginkan, mengidam-idamkan kebahagiaan terutama manusia. Manusia sangat mendambakan kebahagiaan itu sendiri, tetapi perlu diketahui setiap manusia mempunyai cara dan tujuan yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain untuk memperoleh kebahagiaan. Ada beberapa manusia mencari kebahagiaan menggunakan cara yang benar dan juga sebagian mencari kebahagiaan menggunakan cara yang kurang tepat. Hal pertama yang harus dilakukan, ketika seseorang menginginkan kebahagiaan dengan cara menghindari perbuatan buruk, pernyataan ini dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Dhammapada 183, yaitu Sabbap?passa akara?a? artinya “tidak melakukan segala bentuk kejahatan”. Dengan upaya untuk tidak melakukan segala bentuk perbuatan buruk maka secara otomatis terkondisi untuk melakukan perbuatan yang baik, karena hanya perbuatan baik yang mampu menjadi pengondisi buah tidak melakukan kejahatan dijelasakan dalam A?guttara Nik?ya II,15 “tinggalkan kejahatan, O para bhikkhu. Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya manusia tidak dapat meninggalkan kejahatan, Aku tidak akan menganjurkan kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka Kukatakan, tinggalkanlah kejahatan”. Kejahatan yang dimaksud di sini adalah kejahatan melalui tiga pintu perbuatan yaitu jasmani, ucapan, dan pikiran, karena jika ketiga hal ini dikembangkan, maka penderitaan selalu mengikuti kemanapun kita pergi seperti halnya syair di dalam kitab suci Dhammapada Yamaka-Vagga syair pertama dikatakan “penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya”. Makna dari kutipan ini ialah penderitaan dianalogikan roda pedati mengikuti langkah-langkah kaki lembu yang menariknya karena lembu yang menariknya menderita seperti halnya perbuatan buruk akan mengondisikan buah penderitaan bagi si pelaku Sutta dalam Majjhima Nik?ya menyatakan jika kamma pembunuhan secara langsung menentukan kelahiran kembali, maka hal itu akan menghasilkan kelahiran kembali dalam salah satu alam sengsara. Tetapi jika kamma baik mengantarkan menuju kelahiran kembali di alam manusia dan karena kelahiran kembali sebagai manusia selalu diakibatkan oleh kamma baik, kamma pembunuhan akan bekerja dengan cara yang berlawanan dengan kamma penghasil kelahiran kembali dengan menyebabkan berbagai kemalangan yang bahkan berujung pada kematian prematur. Prinsip yang sama berlaku pada kasus perbuatan buruk yang lain, di mana jika kamma buruk menjadi matang dalam kehidupan sebagai manusia dalam tiap-tiap kasus kamma buruk melawan kamma baik yang bertanggung jawab atas kelahiran kembali sebagai manusia dengan menimbulkan jenis kemalangan tertentu sesuai kualitas yang lebih dominan. Untuk memperoleh kebahagiaan setiap makhluk terutama manusia harus berusaha setiap saat untuk mengembangkan perilaku baik di setiap kehidupannya, karena hanya dengan menghindari keburukanlah kebahagiaan dapat diperoleh. Selain menghindari segala bentuk kejahatan untuk memperoleh kebahagiaan, tentunya seseorang berusaha mengembangkan kebajikan seperti halnya yang dituangkan dalam syair Dhammapada 183 yaitu, Kusalassupasampada yang mempunyai arti “mengembangkan kebajikan” selain itu dalam A?guttara Nik?ya II,I,5 menyatakan bahwa “Kembangkanlah kebaikan, O para bhikkhu, manusia dapat mengembangkan kebaikan. Seandainya saja manusia tidak mungkin mengembangkan kebaikan, Aku tidak menganjurkan kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka Kukatakan kembangkanlah kebaikan”. Dari pernyataan ini dapat dilihat bahwa untuk memperoleh kebahagiaan tidak ada cara lain selain mengembangkan kebaikan. Dhammapada Yamaka-Vagga syair ke dua menyatakan “kebahagiaan akan mengikuti bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya”. Mengenai kebahagiaan dapat disimak cerita tentang Gopika yang kemudian terlahir sebagai salah satu putra Dewa Sakka yang bernama Gopaka yang ada di dalam Sakkapañha Sutta D?gha Nik?ya, dalam cerita ini perbuatan yang dikembangkan adalah perbuatan baik yaitu dengan tekun melatih moralitas s?la dan selalu memberi d?na dengan penuh keyakinan. Untuk memperoleh kebahagiaan dua hal ini harus dipenuhi yaitu, tidak melakukan segala bentuk kejahatan dan selalu mengembangkan segala kebaikan, maka kebahagiaan akan selalu mengikuti dan menyertai di setiap saat. A?guttara Nik?ya III,150 menjelaskan “Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia menjadi milik mereka. Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia menjadi milik mereka. Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka”. Selain itu, hendaknya seseorang memperhatikan dua jenis kebahagiaan yang harus dikejar dan yang harus dihindari yaitu, dalam mengejar kebahagiaan jika faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka kebahagiaan demikian harus dihindari. Dan dalam mengejar kebahagiaan faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka kebahagiaan demikian harus dikejar. Serta Kebahagiaan yang disertai awal pikiran dan kelangsungan pikiran dan yang tidak disertai awal pikiran dan kelangsungan pikiran, yang ke dua adalah lebih luhur. Dua jenis kebahagiaan yang harus dihindari dan harus dikejar juga berlaku pada pikiran, ucapan, dan badan jasmani. Semisalnya perbuatan jasmani Ketika melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka perbuatan jasmani demikian harus dihindari. Ketika dengan melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka perbuatan jasmani demikian harus memperoleh kebahagiaan, tentunya tergantung diri sendiri karena diri sendirilah sebagai tuan rumah. Analoginya, jika ada tamu maka yang menentukan tamu itu dapat masuk ke rumah adalah tuan rumah. Jika tuan rumah tidak menghendaki tamu itu untuk masuk, maka sampai kapanpun tamu itu tidak akan pernah masuk. Tetapi jika tamu itu dikehendaki tuan rumah untuk masuk, maka tamu itu akan dapat masuk. Demikian juga halnya dengan kebahagiaan, jika kebahagiaan itu diupayakan, maka kebahagiaan itu akan didapatkan. Tetapi jika kebahagiaan itu tidak diupayakan, maka sampai kapan-pun orang tersebut tidak akan memperoleh kebahagiaan karena kebahagiaan tidak datang secara gratis, melainkan datang dengan tindakan nyata, yaitu dengan mengembangkan kebajikan. Jika ada kebahagiaan yang lebih besar, mengapa tidak mencoba untuk mengorbankan kebahagiaan yang kecil. Cira? Ti??antu Saddhammo Semoga Dhamma sejati dapat bertahan lama Referensi?Vijanao, Kitab Suci Dhammapada. Singkawang selatan Bahussuta Society.?Walshe, Maurice. 2009. Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha D?gha Nik?ya. Tanpa kota Dhammacitta.?Ñanamoli dan Bodhi. 2013. Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nik?ya. Jakarta Barat Dhammacitta Press.?Ñanamoli dan Bodhi. 2003. Petikan A?guttara Nik?ya. Klaten Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
oleh Dwi Purnomo dan Rendy Arifin Mengawali bulan Mei 2018, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri STABN Sriwijaya Tangerang mengadakan kegiatan one day reading Dhammapada atau sehari membaca Dhammapada. Kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa semester 6 ini dilakukan di lobi kampus STABN Sriwijaya Tangerang dan diikuti oleh 25 mahasiswa. Kegiatan One day reading Dhammapada ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dalam hal membaca Dhammapada. Dengan membaca ini pula, diharapkan mahasiswa dapat memahami intisari dari Dhammapada tersebut dan dapat menerapkannya dalam berbagai sendi kehidupan. Dhammapada itu sendiri merupakan salah satu bagian dari kitab suci Agama Buddha yang terdapat dalam Khuddaka Nikāya, Sutta Pitaka. Berisikan syair-syair indah kehidupan, Dhammapada terdiri dari 26 vagga bab yang dikemas dalam sebuah buku. Bab-bab tersebut diantaranya Yamaka Vagga Syair Berpasangan, Appamada Vagga Kewaspadaan, Citta Vagga Pikiran, Puppha Vagga Bunga-bunga, Bala Vagga Orang Bodoh, Pandita Vagga Orang Bijaksana, Arahanta Vagga Arahat, Sahassa Vagga Ribuan, Papa Vagga Kejahatan, Danda Vagga Hukuman, Jara Vagga Usia Tua, Atta Vagga Diri Sendiri, Loka Vagga Dunia, Buddha Vagga Buddha, Sukha Vagga Kebahagiaan, Piya Vagga Kecintaan, Kodha Vagga Kemarahan, Mala Vagga Noda-Noda, Dhammattha Vagga Orang Adil, Magga Vagga Jalan, Pakinnaka Vagga Bunga Rampai, Niraya Vagga Neraka, Naga Vagga Gajah, Tanha Vagga Nafsu Keinginan, Bhikkhu Vagga Bhikkhu, Brahmana Vagga Brahmana. Dalam pembacaan Dhammapada ini, mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok yang diatur bergantian untuk membaca setiap syair pali dengan arti Bahasa Indonesia-nya. Bhikkhu Ratanajayo dan Bhikkhu Pabhajayo turut hadir dan membimbing para mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Tak sedikit komentar dan masukan disampaikan oleh mereka, khususnya dalam hal tanda baca, tinggi rendah suara, kekompakkan dan alunan Magadha yang sesuai. Mahasiswa pun diminta untuk mengulang setiap ada pembacaan syair Dhammapada yang kurang tepat. Pembacaan Dhammapada ini juga merupakan bagian dari Pariyatti Dhamma mempelajari Dhamma, yang hakikatnya harus dilakukan oleh seorang mahasiswa, apalagi sebagai mahasiswa jurusan Dharma Acariya dan Dharma Duta. Terlepas dari itu, syair Dhammapada ini perlu dibacakan dan menyatu dalam kegiatan rohani umat Buddha, karena berisikan berbagai macam nasihat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti syair Dhammapada berikut Bab VI Pandita Vagga Orang Bijaksana 84 Seseorang yang arif, tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri atau pun orang lain, demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat atau keberhasilan dengan cara yang tidak benar. Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi. Kegiatan ini disambut positif oleh bhikkhu Sangha dan para dosen STABN Sriwijaya Tangerang, yang mana merupakan salah satu bagian dari pelestarian Dhamma, terlebih syair-syair Dhammapada belakangan ini hanya terdengar pada saat event-event tertentu, seperti hari raya agama Buddha dan perlombaan. Diharapkan syair-syair Dhammapada ini dapat kembali terdengar di vihara-cetiya seluruh Indonesia dengan menjadi bagian dari kegiatan rohani rutin umat Buddha.
syair dhammapada tentang kebahagiaan